Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok


Kawasan Glodok yang terletak di Jakarta Barat terkenal sebagai pusat penjualan alat-alat elektronik. Selain itu daerah ini juga dikenal sebagai Pecinan terbesar di Jakarta dan  mayoritas warga Glodok adalah keturunan Tionghoa. Di Glodok juga terkenal sebagai surganya kuliner non halal tetapi bukan berarti tidak ada kuliner halal di sini. 

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Jelajah Wisata Kuliner
Pecinan Glodok

Beberapa hari yang lalu emak mengikuti 'Food Tour China Town' yang diselenggarakan oleh Wisata Kreatif Jakarta - Jakarta Food Traveler. Emak akan menjelajah setiap sudut daerah Glodok ini bersama Ira Latief selaku founder WKJ - JFT / tur guide dan teman-teman lainnya selama lebih kurang 4 jam. Wisata kuliner ini akan diliput oleh salah satu televisi swasta Trans7 yang akan tayang di program acara 'Tau Gak Sih'. Tidak sulit untuk menuju ke kawasan Glodok ini, kalian bisa naik commuter line turun di Stasiun Jakarta Kota atau naik TransJakarta dan turun di halte Glodok selanjutnya tinggal berjalan kaki saja.


Pantjoran Tea House

Pantjoran Tea House sebagai tempat
meet point merupakan restoran dengan interior yang mengusung nuansa cina modern dan cozy sekali. Tidak hanya menyajikan teh saja tetapi restoran ini juga menyajikan aneka menu chinese food yang halal seperti dimsum, onde-onde, klepon, mie goreng dan masih banyak menu yang lainnya. Pantjoran Tea House buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 21.00 wib. 

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Pantjadd captionoran Tea House lantai bawah
Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Pantjoran Tea House lantai atas
Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Onde-onde Wijen
Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Dimsum
Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Daftar Menu Pantjoran Tea House

Sekitar pukul 14.15wib emak tiba di Resto Pantjoran Tea House. Semua peserta sudah berkumpul disana. Sebelum emak beserta rombongan mulai menjelajahi daerah Pecinan Glodok ini, kami berswafoto Genki Sokorahen host 'Tau Gak Sih' yang berasal dari negeri Sakura. Genki merupakan komedian Jepang dan seorang food vlogger yang memiliki channel youtube tentang mencoba makanan- makanan Indonesia.

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Berswafoto  Genki Sokorahen

Explore Glodok ini di awali dengan penjelasan Ira Latief  tentang Pantjoran Tea House yang membagi kan teh gratis di hoek depan restonya. Pantjoran Tea House  menyiapkan delapan teko teh dan gelas-gelas bersih di depan toko agar orang yang berjalan dapat meminumnya secara gratis. Ini adalah sebuah tradisi daerah Glodok, tradisi tersebut dinamakan Patekoan. Pat itu delapan yang berarti 8 teko, 4 teko berisi teh manis dan 4 teko berisi teh tawar.

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Patekoan

Dahulu area Glodok ini disebut Patekoan tapi dengan seiring jaman area ini berganti menjadi Glodok/Pantjoran. Pantjoran Tea House salah satu bangunan peninggalan jaman Belanda yang menjadi gerbang utama Kota Tua dan Pecinan Glodok yang sempat terbengkalai puluhan tahun. Pada Desember 2015 akhirnya direvitalisasi dan menjadi Pantjoran Tea House seperti sekarang ini.

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Toko Timur Jaya

Selanjutnya Ira Latief membawa kami ke salah satu toko yang berada di kawasan Glodok ini. Toko Timur Jaya, toko ini menjual beraneka ragam permen, cokelat, kacang, kuaci dan masih banyak yang lainnya. Disini kalian dapat membeli dalam partai besar atau minimal 1 ons. Toko ini sangat ramai apalagi menjelang hari raya besar seperti lebaran, natal dan Imlek.


Gang Gloria Glodok

Gang Gloria terkenal dengan kuliner non halal seperti Sekba (jeroan B2), Bakmi Amoi, Sup Pi Oh Tim (sup penyu/labi-labi) dan masih banyak yang lainnya. Gang nya terbilang sangat kecil dengan di penuhi pedagang makanan di kanan kirinya.

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Sekba (jeroan B2)
Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Sup Pi Oh Tim/ Sup Penyu

Di gang inilah Kedai Kopi Tak Kie yang sangat melegenda itu berada (kuliner halal). Kedai Kopi yang berdiri sejak tahun 1927 ini sampai sekarang masih menjadi tempat hits orang Jakarta. Tapi ketika emak dan rombongan tiba di sana kedai sudah tutup. Jadi kalau kalian akan menikmati kopi legendaris di Kedai Kopi Tak Kie, kalian harus datang pagi-pagi ya.


Gang Kali Mati

Untuk menuju Gang Kalimati emak harus menyebrang jalan dan menyusuri pasar petak sembilan. Tak beda dengan Gang Gloria, Gang Kali Mati inipun sangat kecil dengan di penuhi pedagang makanan di kanan kirinya dan cukup ramai pengunjung. 

Di sini kami mendapati penjual kue Rangi, kue khas Betawi yang berbahan dasar tepung tapioka dan kelapa parut. Rasanya crunchy dan lembut, karena proses pembuatan nya di panggang dengan cetakan khusus dan di olesi gula kelapa cair.

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Proses pembuatan Kue Rangi
Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Kue Rangi di olesi Gula Kelapa

Di depan penjual kue Rangi terdapat kios yang menjajakan kue Tau Sa Pia. Kue ini mirip dengan bakpia tapi ukuran Tau Sa Pia agak besar dengan isian yang beragam seperti kacang hijau, kacang merah, cokelat, keju, durian dan ubi ungu. Di sini kamipun bisa melihat proses pemanggangan Tau Sa Pia ini. Untuk harga kue ini hanya Rp 5.000,-/buah. Emak suka sekali dengan Tau Sa Pia ini, kulitnya tipis dan isiannya banyak sekali apalagi yang rasa durian hmmm yummy.

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Proses pemanggangan Tau Sa Pia
Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Tau Sa Pia


Klenteng Kim Tek Le 

Dengan menelusuri Gang Kali Mati akhirnya kami tiba di Klenteng Kim Tek Le (Jin De Yuan) atau Vihara Dharma Bhakti.

Ira Latief menjelaskan sejarah Klenteng Kim Tek Le ini, yang dibangun pada tahun 1650 adalah klenteng tertua yang ada di Jakarta. Klenteng ini didirikan oleh seorang Letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen dan dinamakan Koan lm Teng. Ketika terjadi tragedi pembantaian Angke dimana para kaum Tionghoa dibunuh secara masal termasuk Klenteng Koan lm Teng ikut dirusak dan di bakar pada masa kolonial Belanda.

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Berswafoto di Klenteng Kim Tek Le

Se - abad setelah terjadi tragedi pembantain Angke, pada tahun 1755 seorang Kapten Tionghoa lainnya yaitu Kapten Oie Tjhie memugar kembali klenteng yang menjadi kebanggan warga Tionghoa itu, lalu di beri dengan nama Kim Tek Le yang berarti Klenteng kebajikan emas. Nama ini disematkan untuk mengingatkan manusia agar tidak hanya mementingkan kehidupan materialisme saja, tetapi lebih mementingkan kebajikan antar sesama manusia.


Nasi Ulam Misjaya

Masih kuat emak berjalan, akhirnya tibalah emak di Nasi Ulam Misjaya yang sudah berdiri sejak 1964. Gerobak nasi ulam ini berada di depan Klenteng Toasebio, buka mulai pukul 16.00 hingga 22.00wib.

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Nasi Ulam Misjaya
Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Nasi Ulam Misjaya

Satu porsi Nasi Ulam Misjaya terdiri dari nasi, bihun, kacang goreng, kerupuk/emping, kuah semur, daun kemangi dan tak ketinggalan sambal pastinya. Dengan beberapa macam lauk ada tahu - tempe bacem, kentang, telur, perkedel, dendeng sapi dan cumi goreng. Emak memilih tahu bacem dan dendeng sapi sebagai lauk pelengkap. Alhamdulillah, urusan perut emak terobati 😁.



Rujak Shanghai

Rujak Shanghai adalah rujak yang berbahan dasar seafood. Satu porsi rujak shanghai terdiri dari ubur-ubur, cumi, kangkung, bubuk koya dan di siram saus asam manis. Selain rujak shanghai juga tersedia rujak Juhi, kerang, udang dan macam-macam seafood lainnya. Harga rujak shanghai di bandrol Rp 40.000,-/porsi. Rujak shanghai ini sudah berdiri sejak tahun 1948 dan berlokasi dekat restoran Cina Santong Kuotieh 68.


Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Rujak Shanghai


Bubur Kacang Ijo Teddy

Warung Kacang Ijo Teddy berada di belakang rujak shanghai dan sudah mulai berjualan dari tahun 1943.  Warung bertenda ini tak hanya menawarkan kacang ijo saja tetapi banyak menu yang bisa menjadi pilihan seperti kacang tanah, kacang merah, jali-jali dan ubi jahe.

Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Bubur Kacang Ijo Teddy
Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Kacang Ijo
Jelajah Wisata Kuliner Pecinan Glodok
Jali-jali

Kalian pasti heran, apa itu jali-jali?
Jali-jali panganan yang terbuat dari gandum dan cocok untuk panas dalam. Kacang ijo disini beda dari yang lain karena ada campuran kulit jeruknya. Untuk harga semua menu di bandrol Rp 17.000,-/ mangkuk.

Tidak terasa selesai sudah jelajah wisata kuliner di daerah Pecinan ini. Tapi emak masih penasaran dengan Kedai Kopi Tak Kie, kapan-kapan pasti emak kembali ke kawasan Pecinan ini. 
Gimana, kalian mo ikut ga? 

- Leha Barqa -

Comments

  1. Udah berapa kali aku liat perjalanan teman-teman blogger ke sini. Jadi penasaran secara letaknya tergolong pusat kota. Next time kalau ke Jakarta lagi maulah main ke sini sambil kulineran ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus di coba ke sini ya omnduut sambil icip-icip kuliner nya.

      Delete
  2. Banyak kuliner legendarisnya ya di Glodok.
    Kalo ntar ke Jakarta lagi bolehlah main ke Glodok. Siapin perut laper nih.

    ReplyDelete
  3. Penasaran aku sama rujak shanghai itu slurrrp.. kue rangi mah my love banget, alhamdulillah pas ngidam ada yg jual deket sini hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kl yg suka seafood biasanya suka sama rujak Shanghai ini dan rasa nya beda dgn rujak keumuman. Toss lah mbak, aku juga suka kue rangi.

      Delete
  4. Kedai Tak Kie ini cepet banget tutupnya, ya. Suami saya pernah ke sana juga, tapi udah tutup. Saya jadi pengen juga ikut tour begini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata nya kl mo ke kedai tak Kie musti pagi2 bgt. Silakan ikut Wisata Kreatif Jakarta ada Fanpage nya di FB mbak.

      Delete
  5. Weh...kok nampak lezat sih? Dari Bandung ada ga ya tour kayak gini. Seru nih wisata kuliner sepanjang jalan. Coba KA Bdg-Jkt smp stasiun Kota Lama, kan seru...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayok mbak Hani ikutan tur Wisata Kreatif Jakarta, kl dr Bandung aku blm paham deh. Coba hubungi Fanpage di FB.

      Delete
  6. Ya ampun ku ngiler liat dimsumnyaaaa. Kapan ya ada acara seperti ini lagi? Ku ingin ikuttt. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan ke Fanpage Wisata Kreatif Jakarta mas, di sana ada jadwalnya.

      Delete
  7. Waah seru banget ya mbak bisa jalan jalan ke kawasan Glodok ini. Mau ikutan ah kalau ada acara jalan jalan lagi. Eh aku juga suka kue pia. Apalagi yg isian kacang ijo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru mbak Nung ikut tur wisata kyk gini meskipun kaki capek hehehehe. Kl mo ikutan liat infonya di Fanpage Wisata Kreatif Jakarta mbak nung. Kue pia di sini enak, kulitnya tipis isianya tebel pasti tambah suka deh.

      Delete
  8. seru banget bisa jelajah kuliner gini mbaakk. mana bikin laper pula ini foto-fotonya, ahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru pake banget mbak, meskipun kaki capek ga berasa.

      Delete
  9. Memang asik sekali eksplor Glodok, mak. Bisa wisata arsitektur, budaya, sejarah, dan kuliner. Aku pernah ke sana tapi belom kulineran. Baca tulisan ini, jadi pengen ke Pantjoran Tea House.

    Gak diajak ke Gereja Katolik Santa Fatima, mak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Next kesana lagi nyoba kuliner nya mas. Pasti ke Gereja Katolik Santa Fatima dong, krn pas sampai di Gereja Santa Fatima sedang ada kebaktian makanya emak dan rombongan ga bisa lama2 disana.

      Delete
  10. Kamgen banget main ke kawasan Glodok ini. Dulu aja beberapa kali ke san sewaktu sekolah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Next ke sana lagi mbak, itung-itung reunian hehehehe sekalian kulineran deh.

      Delete
  11. Wah, aku seringnya nyobain kuliner non halalnya.


    Untuk Pantjoran Tea House, saya pernah cobain teh tawarnya pas lagi lewat di depannya.
    Kalau Tak Kie, daei pagi juga sudah ramai. Kadang jam 1 pun dia sudah habis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti kode untuk emak balik lg ya mas, ke kedai tak Kie lebih pagi datengnya.

      Delete

Post a comment

Popular posts from this blog

SoMan Sejatinya Teman

Bakso NgeBOM Ya BAKSO BOM MAS ERWIN

'GLOW TOGETHER' Rumah Syantik Sari Surya